Sebuah Kisah untuk Para Wanita

ImageJangan Pernah Berpikir Untuk Menjadikan “Si Dia” Orang dalam Fantasi Anda

Ketika saya masih seorang gadis kecil, saya sudah pernah mendengar tentang kisah ini.
Ada seorang pemuda membawa pedang berkelana. Di tengah perjalanannya melewati sebuah desa, dia berhasil menolong seorang gadis yang dikepung oleh bintang buas. Akhirnya pemuda itu mendapatkan cinta dari gadis yang ditolongnya.
Setelah pemuda itu pulang dari tujuan perantauannya dan kembali ke desa kekasihnya, dia mendengar teriakkan minta tolong dari kekasihnya.

Ternyata ada seekor binatang buas sedang menyerang rumah kekasihnya. Lalu dengan gagah perkasa dia mencabut pedang siap menikam dan membunuh binatang itu.
Akan tetapi gadis itu dengan wajah sedih berkata, “Jangan gunakan pedang lebih baik gunakan batu saja.” Semula pemuda itu merasa ragu, akan tetapi akhirnya dituruti juga petunjuk gadis itu dengan menggunakan batu membunuh binatang itu.
Dengan gembira si gadis menghamburkan dirinya dalam pelukan kekasihnya. Namun demikian si pemuda itu tidak merasa berjasa, karena dia tidak menggunakan pedangnya. Diam-diam dia mengemasi barangnya dan pergi berkelana lagi.
Lewat beberapa minggu kemudian, ketika pemuda itu pulang melewati rumah kekasihnya, dia melihat seekor binatang yang lebih besar lagi sedang menyerang rumah kekasihnya itu.

Pemuda itu lantas mencabut pedang menerjang ke arah rumah, tapi hatinya berpikir mungkin seharusnya menggunakan batu saja. Ketika dia sedang bimbang, binatang itu menerjang ke arahnya sehingga membuat lengannya terluka.
Pemuda itu terpojok hingga ke sudut tembok, dengan bimbang dia menengok ke arah si gadis yang sedang berada di jendela. Gadis itu berteriak, “Gunakan toya untuk memukulnya. . . .”
Segera dia memungut sebatang tongkat kayu bertarung dengan binatang itu. Akhirnya binatang itu mati, pemuda itu merasa sangat malu dan menolak pelukan kekasihnya. Diam-diam dia kembali meninggalkan tempat itu. Dengan membawa kekecewaan yang tak dapat diutarakan, pemuda itu melakukan perjalanannya kembali.

Ketika dia mendengar suara minta tolong dari arah kejauhan, rasa tanggung jawab menolong sesama membuat dirinya menghunus pedangnya lagi. Akan tetapi tepat pada saat itu kembali dia menjadi bimbang dan ragu, karena dia tidak tahu harus menggunakan pedang, batu ataukah toya kayu!
Apabila kekasihnya itu berada di sini, dia pasti bisa memberikan saran harus bagaimana melakukannya! Tetapi kebimbangan itu hanya sekejap, suara minta tolong yang amat ketakutan telah mengembalikan kepercayaan dirinya, telah mengembalikannya, dia segera menghunuskan pedangnya kembali dan menerjang ke kerumunan binatang-binatang itu dan membinasakannya.

Sejak saat itu si pemuda itu tidak pernah kembali ke samping kekasihnya.
Bertahun tahun kemudian, setelah mengalami tempaan kesengsaraan dan rendaman air ketabahan, saya berangsur angsur mulai memahami kandungan makna yang sebenarnya dari kisah itu. Yakni mempercayai dan sepenuhnya memberi kepercayaan.

Di dalam hati, semua pria memiliki keberanian seperti pemuda dalam kisah tadi. Mereka walaupun berterima kasih atas segala perhatian dan usulan Anda, akan tetapi mereka lebih membutuhkan kepercayaan diri untuk menghadapi kehidupan.
Apabila Anda mengira dapat memahami kekasih Anda dan tahu bagaimana harus bertindak, sehingga berusaha untuk mengubahnya. Tak peduli apakah Anda itu bagaimana baiknya, dapat merampas pilihan hidup kekasih Anda terhadap dirinya sendiri, dan hak tanggung jawab cara dia mempertahankan hidup.
Mungkin tindakan tersebut dapat membuat lelaki berangsur-angsur kehilangan percaya diri sehingga berubah menjadi curiga terhadap posisi dirinya di hati Anda. Yang akhirnya akan diam-diam pergi meninggalkan Anda.
Sebenarnya menjadi kekasih yang memenuhi syarat dan sukses tidaklah mudah, yang paling penting adalah setiap saat membuat dia tahu bahwa Anda selalu mencintainya, menyayanginya dan menghargainya.

Membiarkan diri selalu berjalan berdampingan dengannya, berjalan bersama dalam kebahagiaan dan dalam kesengsaraan. Kegembiraan ataupun air mata dipikul bersama. Setelah dia melewati kesedihan dan kesendirian, berilah perhatian yang lembut. Tetapi jangan merampas haknya untuk merenung sendiri.
Sebisanya jelaskan maksud Anda dan berusaha untuk mengerti perasaannya, tapi juga tidak boleh demi mencapai kesepakatan diam-diam lalu mengubur sifat suka berdebat. Sudah tentu bagaimanapun saling mencintai, juga bisa terjadi pertentangan, juga bisa marah.

Harus membuat dia mengerti bahwa Anda sedang marah, walaupun setelah pertengkaran hebat lalu saling berpelukan dan meneteskan air mata penyesalan, jangan biarkan kemarahan akibat perbedaan pendapat diantara kalian meninggalkan luka goresan yang tidak bisa dihapus.

Anda harus dengan tulus ikhlas dan terbuka di depan kekasih Anda bahkan pada sisi yang tidak sempurna sekalipun, agar dia bisa memahami dan dengan mantap mencintai Anda. (The Epoch Times/lin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: