Peran Ayah dalam Pendidikan Keluarga

ImageAyah bagaikan gunung yang tinggi, sedangkan ibu bagaikan lautan yang luas, di dalam pendidikan keluarga mereka berdua memiliki keunggulan masing-masing, harus dilaksanakan hingga mencapai Yin dan Yang, saling mengisi mencapai satu keseimbangan, mencegah munculnya fenomena “Yin menguat dan Yang melemah”.

Ada sebagian ayah menyerahkan tanggung jawabnya untuk mendidik kepada istrinya. Membiarkan sang istri yang mengurusi anak, sedangkan dia sendiri bersantai tidak mempedulikannya.

Sebenarnya tindakan ini kurang baik. Jika di dalam hati anak merasakan bahwa ayahnya kurang bertanggung jawab kepada dirinya, dan bila menemui masalah tidak mencari pendapat dari ayahnya, maka kepercayaan dan kewibawaan dari ayah kian lama akan menjadi kian rendah.

Diantara suami dan istri boleh ada pembagian tugas, tetapi urusan mendidik anak harus ada kesepakatan bersama, tidak boleh mendorong tanggung jawab ini kepada salah satu pihak saja. Suami dan istri harus berinisiatif untuk mendidik anak, dengan demikian anak baru bisa merasakan bahwa ayah dan ibunya benar-benar memberi perhatian terhadap dirinya.Si anak juga tidak berani mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Mendidik secara Yin menguat dan Yang melemah

Suatu penelitian mengadakan survei tentang pendidikan keluarga, menemukan semacam fenomena, yakni pengunjung yang datang kebanyakan para ibu.

Dalam penelitian tersebut, orang tua yang diundang menghadiri pertemuan, menemukan bahwa yang duduk di bawah panggung hampir semuanya wanita. Hal tersebut membuat peneliti teringat, dalam masalah mendidik anak apakah telah terjadi fenomena “Yin menguat dan Yang melemah” dalam masyarakat.

Untuk hal ini peneliti telah melakukan survei, bahwa di dalam pendidikan anak pihak ibu yang lebih berperan mencapai 50%, pihak ayah yang lebih berperan mencapai 20%, kedua pihak sama-sama berperan mencapai 30%.

Ketika peneliti menanyakan kepada sebagian ayah tentang perannya dalam pendidikan keluarga, ada yang menjawabnya sibuk bekerja, tidak ada waktu mengurusi anak. Ada pula yang menjawab tabiatnya kurang baik, tidak sanggup memarahi anak.

Kelihatannya semua beralasan, sebenarnya mereka telah melupakan dan menga-baikan pepatah kuno yang mengatakan, “…dilahirkan dan tidak dididik, adalah kesalahan dari sang ayah.”

Sebagai seorang ayah, mencampakkan tanggung ja-wab untuk mendidik anak-anaknya merupakan suatu kesalahan yang sangat besar.

Anak-anak yang menerima pendidikan dari kaum ibu dewasa ini sudah cukup banyak. Masa bayi anak itu kebanyakan dipelihara dan dijaga oleh ibunya. Sewaktu di taman kanak-kanak yang mendidik semuanya adalah guru perempuan. Masa SD dan SMP pada dasarnya juga mendapatkan pendidikan dari guru perempuan.

Jika ayah yang berada di rumah juga mencampakkan tanggung jawabnya untuk mendidik, dari kecil hingga besar anak itu menerima didikan dari kaum perempuan, apakah dia masih bisa memiliki kekerasan “Yang” ? Bisakah tidak menjadi “Yin menguat dan Yang melemah”?

Kurang mendapatkan pendidikan dari kaum pria, sifat, perasaan, tekad maupun cara berpikir dari anak itu akan mendapatkan pengaruh yang cukup signifikan.

Ada seorang anak lelaki yang nyalinya sangat kecil, di dalam kelas dia tidak berani mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, walaupun menjawab suaranya pun kecil bagaikan suara nyamuk. Rapor pelajarannya selalu tidak bisa meningkat ke atas.

Setelah diselidiki oleh gurunya, menemukan bahwa anak tersebut waktu di rumah selalu mengikuti ibunya, dan ibunya itu bernyali sangat kecil, selalu takut anaknya terlukai, maka dari itu dia selalu melindungi dan memborong semua pekerjaan, oleh sebab itu anaknya berwatak introvert (tertutup) dan bernyali kecil.

Dengan merujuk pada keadaan ini, sang guru menyarankan agar si ayah lebih banyak melakukan komunikasi dengan anaknya, pendi-dikan di dalam rumah diuta-makan menggunakan pendidikan dari ayah.

Oleh karena itu ayahnya kemudian sering mengajak si anak ini pergi mendaki gunung, mendayung perahu, jiwa yang tak mengenal bahaya dan kesulitan serta besar dan lapang ini telah memberi pengaruh kepada watak dari anak itu. Akhirnya, nyali dari anak kian hari kian besar, di dalam kelas penuh dengan semangat mengacungkan tangan menjawab pertanyaan, rapor pelajarannya pun meningkat keatas.

Maka dari itu, kami berpandangan bahwa di dalam pendidikan keluarga harus di-perkuat dengan pendidikan dari kaum pria. Terdapat perbedaan watak diantara pria dan perempuan, jika dibicarakan dari keseluruhan, ibu lebih lemah lembut, sedangkan ayah memiliki kekerasan “Yang”.

Kelembutan, ketelitian, kesabaran serta perhatian dari sang ibu, dan kelapangan dada, serta watak yang terang-terangan dari sang ayah, dalam mendidik anak harus mencapai keseimbangan antara Yin dan Yang. Untuk merubah keadaan kurangnya pendidikan dari kaum pria dan kelebihan pendidikan dari kaum perempuan, maka pendidikan dari kaum pria harus diperkuat.

Menurut hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Yale Amerika Serikat baru-baru ini. Mereka menyatakan, anak yang dibesarkan oleh kaum pria IQ-nya tinggi, hasil rapor mereka dalam sekolah acapkali lebih bagus, akan lebih mudah berhasil jika kelak mereka terjun ke dalam masyarakat.

Ini merupakan hasil penelitian mereka secara terus-menerus selama 12 tahun, mulai dari masa bayi hingga berumur belasan tahun masing-masing tahap umur dari sang anak. Hasil ini didapat dari melaksanakan penjajakan dan penelitian terhadap anak tersebut.

Peneliti tidak menyangkal pentingnya pendidikan dari kaum perempuan. Sang ibu melalui perasan yang lembut yang dimiliki khusus oleh kaum perempuan, mengerjakan sesuatu dengan teliti dan serius, melalui sifatnya yang lembut untuk mempengaruhi sang anak, dengan cara bercerita, menyanyi, bermain dan sebagainya, telah memberikan perlindungan dan perhatian yang sangat banyak kepada anak, jasa-jasa ini tidak boleh diabaikan.

Namun, kekurangan pendidikan dari kaum pria acapkali akan membuat sang anak mengekpresikan perasaan murung, berwatak lemah tak teguh, bernyali kecil serta memiliki ciri-ciri sifat aneh suka mengasingkan diri, minder dan lain-lain.

Pendidikan kaum pria yang berani dan tegas

Justru pendidikan dari kaum pria inilah yang telah menutupi kelemahan ini. Ciri khusus dari kaum pria acapkali adalah teguh, berani, tegas, percaya diri, terus terang dan mandiri, terhadap perempuan sifat-sifat tersebut nampaknya agak kurang, hal tersebut telah menunjukkan efek dari pendidikan kaum pria yang tidak dapat digantikan.

Dipandang dari sudut cara mendidik, acapkali pendidikan kaum pria memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Lelaki lebih condong kepada kemandirian, maka dia akan mendidik anaknya untuk mandiri. Acapkali ayah tidak mau mewakili anaknya untuk memborong pekerjaan, melainkan memberi semangat kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah secara mandiri, maka kadar untuk memanjakan anak agak sedikit.

Kadang kala anak ini terjatuh, dia tidak menangis, tapi sang ibu bergegas datang menghampiri anak itu dan dipapahnya untuk berdiri sambil menepuk-nepuk tanah dan mengusap-usap bagian yang terjatuh, mengusap keluar air mata sang anak dengan paksaan. Sedangkan acap kali tidak demikian dengan sang ayah, mereka akan berkata, “Mengapa berjalan tidak berhati-hati, berdirilah, jalanlah ke depan lagi, ayah yakin kali ini pasti bisa berjalan dengan baik.”

Anak tersebut tidak akan menangis, dia akan berdiri dan berjalan ke depan, sang ayah akan bertepuk tangan mengikuti dari belakang dan berkata, “Sungguh-sungguh berani! Sungguh-sungguh berani!” Dengan demikian membuat anak tersebut penuh dengan kepercayaan diri.

Kaum pria senang menempuh petualangan, maka terhadap tindakan sang anak yang menempuh petualangan sang ayah juga memberikan semangat yang sesuai.

Jika si anak tersebut melompat turun dari undak-undakan yang tinggi, acap kali bisa mendapatkan kritikan yang pedas dari sang ibu, tapi tidak demikian dengan ayah, dia bisa mengacungkan jempol dan berkata kepada anak-nya, “Hebat!”

Kaum pria senang berolah raga, senang mengajak anaknya pergi berlari, berenang, mendaki, bermain bola, secara tidak sadar telah melatih ketekadan dari sang anak.

Kemampuan gerak dari kaum pria lebih kuat, membiarkan anak bekerja bukan hanya menyapu lantai, mengelap meja, tetapi bersama-sama dengan anak menggunakan alat perkakas seperti palu, pisau dan lain-lain, mereparasi barang, membuat mainan, membina kemampuan bekerja dari anak dalam segala bidang.

Semangat mencari tahu dari kaum pria lebih besar, acapkali bersama-sama dengan anak melakukan kegiatan untuk mencari tahu. Jikalau seorang anak membongkar sebuah mainan, acapkali dia bisa dimarahi oleh ibunya.

Sedangkan ayahnya sering kali tidak berkeberatan, bahkan bisa bersama-sama dengan anak ikut membongkar mainan, untuk memenuhi rasa ingin tahu dari anak, kemudian mengajari anak itu untuk memasangnya kembali. Disamping itu terhadap benda yang baru ayah lebih bisa tertarik, hal tersebut juga akan membangkitkan ketertarikan anak terhadap benda-benda yang baru.

Kaum pria umumnya suka main catur, sering kali bermain catur, halma bersama-sama dengan anaknya, dapat membina kemampuan berpikiran logis dari anak.

Kaum pria tidak seperti halnya dengan kaum perempuan senang bersih, maka dari itu terhadap anak yang ber-main tanah, menggali pasir, acapkali mengambil sikap mendukung.

Ilmuwan dari Inggris menemukan bahwa tubuh anak terlalu bersih juga tidak baik, kesimpulan dari penelitian mereka adalah makin “kotor” seorang anak semakin sehat anak itu.

Hal ini disebabkan oleh karena jika manusia ini terlalu bersih, jarang sekali ber-sentuhan dengan kuman dan virus, dalam tubuhnya tidak bisa timbul antibodi, sekali terserang oleh kuman segera akan jatuh.

Maka dari itu terhadap proses pertumbuhan seorang anak yang “sedikit pun tidak berdebu” bukanlah hal yang baik. Kalau begitu, sikap longgar dari kaum pria terhadap masalah kebersihan seorang anak, sebaliknya malah bisa membantu dalam proses pertumbuhan seorang anak.

Dibandingkan dengan kaum wanita, kaum pria lebih menggemari jenis rangsang-an yang jelek, seperti kesulitan, kelaparan, kelelahan dan lain-lain, menganggap hal-hal ini sebagai pengalaman yang pasti ditemui dalam kehidupan.

Anak menjumpai kesulitan-kesulitan ini tidak menjadi soal, harus membiarkan dia mengatasi sendiri. Jenis rangsangan jelek semacam ini sangat bermanfaat terhadap pertumbuhan seorang anak.

Ibu cermat dan ayah berfilsafat

Pada kenyataannya telah terbukti, bahwa masalah kecil dalam keseharian seorang anak acapkali menggantungkan ibunya. Tetapi di saat kritis dalam kehidupan, saat menghadapi masalah yang lebih besar, mereka akan menggantungkan pada ayahnya.

Percakapan antara ibu dan anak acapkali sangat cermat, sedangkan percakapan seorang ayah dan anaknya selalu mengandung filosofi.

Di dalam mata hati seorang anak ibu bagaikan air, ayah adalah gunung. Air dan gunung saling bergantung, satu pun tidak boleh kurang. Karena itu, ketika mendidik anak, ayah dan ibu harus menuaikan tanggung jawabnya masing-masing, berat dan ringannya dilihat dari waktu.

Masa kecil anak, ibu harus bertanggung jawab lebih banyak, karena saat itu anak membutuhkan asuhan yang cermat dari ibu. Setelah anak itu tumbuh besar, ayah harus memberi didikan yang lebih banyak, ini disebabkan karena anak yang sudah besar secara psikis akan mengalami perubahan, merawat terlalu cermat malah bisa menimbulkan keantipatian.

Tidak peduli bagaimana pun juga, dalam masalah mendidik anak sebagai seorang ayah tidak boleh sama sekali melepas tanggung jawab dan tidak mau ikut mengurus, tanggung jawab ini harus diemban.

Pendidikan keluarga telah menghimbau kaum pria untuk turut mendidik, dan sebagai seorang ayah harus mengemban tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: