Kata Hati Wanita Jelang Bercerai

Suamiku, sebelum menikah engkau selalu memanjakanku bagaikan putri raja. Ketika makan, engkau seringkali berinisiatif mengambilkan lauk untukku. Waktu berdesakkan di bus umum, demi memperebutkan sebuah tempat duduk untukku, tidak segan bertengkar dengan orang lain hingga wajahmu menjadi merah padam. Ketika menyebrang engkau tak lupa selalu menggandeng tanganku, berjalan di depan membukakan jalan untukku.

Akan tetapi bagaimana setelah menikah ? Ketika makan bersama, kini kau sama sekali tak memandangku. Ketika menyeberang jalan, juga tidak lagi menggandeng tanganku.
Suamiku, wanita itu perlu disayang dan dimanja, juga memerlukan perlindungan, apakah dirimu mengerti ?

Sebelum menikah sebagian besar pakaianku, engkau yang memilihkannya. Corak apa yang sedang tren, engkau segera memilihkan untukku. Tetapi bagaimana setelah menikah?

Suamiku, engkau sama sekali tidak pernah menemaniku lagi berbelanja, berjalan-jalan di mall. Disaat setiap kali berjalan melewati toko pakaian wanita, dan mengajakmu menemaniku membeli, engkau selalu berkata dengan nada tidak sabar, “Pernahkah kau lihat ditoko itu ada bayangan seorang lelaki?”

Mengapa dirimu sedemikian tidak mengerti akan perasaan wanita? Bagaimana bisa tidak membuat diriku jadi sedih?

Suamiku, sebelum menikah engkau sering mengajakku keluar rumah berolah raga, juga menanamkan prinsip bahwa kesehatan adalah modal dari segalanya. Tapi bagaimana setelah menikah ?

Engkau tidak hanya tidak pernah melatih tubuhmu sendiri, bahkan mengharapkan diriku selalu berada di rumah sepanjang hari. Berputar mengelilingi pekerjaan -pekerjaan rumah yang membosankan.

Suamiku, sebelum menikah aku sering kali menerima kejutan yang kau berikan. Walaupun itu hanya selembar tiket bioskop yang diam-diam kau taruh di atas mejaku, namun dapat membuat diriku merasa bahagia selama seminggu. Akan tetapi bagaimana setelah menikah?

Dirimu tidak hanya mengesampingkanku, kadang kala telah menghidangkan masakan satu meja penuh dan menantimu pulang. Akan tetapi engkau malah menelpon memberitahukan, “Malam ini saya makan di luar…” Masakannya telah dingin, aku jadi tidak selera untuk memanasinya lagi.

Suamiku, sebelum menikah, tak peduli dimana pun engkau bertugas keluar, setiap malam dirimu pasti menelponku. Akan tetapi bagaimana setelah menikah?

Ketika dirimu bertugas di luar kota, terkadang terpikir untuk menelponku, tetapi hanya menanyakan apakah pekerjaan rumah anak-anak sudah diselesaikan. Sepatah kata yang penuh perhatian untuk diriku pun tak pernah terucap. Suamiku mengertilah, hari-hari tanpa tidur berdampingan denganmu, membuatku semakin merindukanmu!

Suamiku, aku sungguh mempedulikanmu, tetapi engkau sungguh membuatku sedih. Setelah reda kepedihan hati, akan kuputuskan untuk bercerai. Berharap jika engkau menikah lagi, jangan sampai mengulang kesalahan yang sama, perlakukanlah istrimu dengan baik.

Langkah pertama adalah memahami wanita setelah menikah, sebenarnya tuntutan mereka tidaklah tinggi. Meskipun hanya berupa sebuah ucapan selamat yang sederhana, juga akan membuat hati wanita menjadi hangat. (The Epoch Times/lin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: