Bersikap Tulus Terhadap Orang Lain

ImageKemarin malam ketika saya pergi ke tempat pelelangan, mencari bos yang aku kenal untuk berbincang-bincang. Kebetulan istrinya juga datang membantu di sana, maka kami bertiga pun berbincang bincang. Sang istri bercerita tentang peristiwa yang pernah dia alami pada beberapa tahun yang lalu.

Kira-kira 6 tahun yang lalu, setelah menikah, istri bos mempunyai anak, maka dia lalu tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya selama sepuluh tahun lebih.

Hingga 6 tahun yang lalu, dikarenakan anak-anaknya telah beranjak besar dan tidak perlu didampingi lagi atau dilayani sepanjang hari, maka dia berpikir untuk bekerja kembali agar bisa mendapatkan pemasukan lebih untuk menunjang keuangan rumah tangganya.

Sebelum menikah, istri bos itu bekerja sebagai seorang akuntan. Pekerjaannya sangat sederhana, yaitu mencatat bon dan nota, lalu pergi menyetor uang ke bank. Hubungan dengan teman teman sejawat juga tidak terlalu rumit.

Setelah menikah dan sudah istirahat selama sepuluh tahun lebih, dia ingin bekerja kembali. Kali ini dia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik yang besar, dan mengemban tugas sebagai Quality Control (QC).

Karena perusahaan ini besar dan memiliki ribuan karyawan dan pekerjaannya sebagai Quality Control sangat erat hubungannya dengan bagian produksi, maka rekan kerja yang berhubungan dengannya juga sangat banyak. Jika dibandingkan dengan lingkungan kerjanya yang dulu boleh dibilang jauh lebih rumit.

Sewaktu baru masuk kerja, dia sangat berharap bisa berhubungan baik dengan semua rekan kerja, maka dari itu ketika dia menghadapi dan bergaul dengan orang boleh dibilang selalu menaruh kepercayaan penuh kepada orang lain. Dan tentu saja dia juga berharap bisa mendapatkan sikap yang sama dari orang lain.

Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, mendadak dia menemukan ada seorang rekan kerja yang sangat dia percayai, diluar dugaan demi menunjukkan kebaikan diri sendiri kepada staff lain, telah menyebarkan isu fitnahan tentang istri bos itu. Di belakang punggungnya rekan itu telah mengeluarkan kata-kata fitnahan yang tidak sedap dan memutar balikkan perkataan tulus yang pernah dia ucapkan.

Pada akhirnya ketika istri si bos itu menyadari akan peristiwa yang terjadi, sudah banyak staf lain yang terlanjur mempercayai fitnahan yang disebarkan itu. Sehingga mereka semua timbul antipati terhadapnya.

Pada waktu itu, dia ingin meluruskan fakta yang sebenarnya, akan tetapi malah dicurigai dan tidak dipercaya oleh mereka. Akibatnya sebuah hati yang semula baik, seketika itu terasa pe-dih dan mengeluarkan darah bagaikan tersayat pisau.

Ketulusan hati dibalas dengan kecurigaan dan antipati. Hal ini membuatnya membentengi diri ke dalam dunianya sendiri. Dia tidak berani lagi bergaul dan mengadakan kontak dengan orang lain. Yang terparah bahkan pulang ke rumah pun tidak berani berbicara dengan anak dan suami sendiri, dia trauma, takut jika orang-orang terdekatnya juga akan melukainya dengan cara yang sama.

Kemudian suaminya dengan kesabaran dan kemurahan hati, selalu memberi bimbingan. Seiring dengan berlalunya waktu, berangsur-angsur dia bisa keluar dari masa suram ini.

Kemarin ketika mendengarkan dia bercerita tentang peristiwa yang sudah berlalu ini, raut wajahnya masih menyiratkan sebersit kesedihan. Bisa dibayangkan ketika peristiwa ini terjadi pada lima tahun yang lalu, betapa beratnya pukulan itu terhadap seorang “masyarakat baru” yang baru kembali bermasyarakat setelah meninggalkan pekerjaannya selama sepuluh tahun lebih.

Dia berkata, jangan melihat dia sekarang dapat bercerita dengan ringan, jika pada beberapa tahun yang lalu dia bercerita tentang peristiwa ini, masih bisa merasa sedih hingga meneteskan air mata.

Akhirnya saya bertanya apakah rekan kerja yang memfitnahnya itu masih berada di perusahaan sampai sekarang?

Dengan tertawa dia berkata, “Masih ada, hanya sekarang ini tidak ada seorang pun yang sudi memperdulikan dia, karena semua orang pada akhirnya mengetahui bagaimana dia sebenarnya.”

“Lalu para staf yang lain apakah masih antipati terhadap Anda?” saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Mereka semuanya baik, setelah memahami bahwa saya benar benar tulus, semuanya menjadi teman baik lagi”

Jawaban darinya ini mengharapkan mereka yang biasa mengadu domba kepada orang lain agar memperhatikan hal ini. Juga bagi mereka yang bersikap tulus terhadap orang lain, akan mendapatkan Semangat dan Keyakinan ! (The Epoch Times/lin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: