“Anda Jangan Membohongi Saya”

ImageKemarin saya mendengarkan cerita dari seorang teman tentang pengalamannya melamar pekerjaan, sangat istimewa, di sini saya tuliskan cerita ini, agar bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua akan pentingnya moralitas.

Teman saya ini bermaksud melamar pekerjaan di suatu perusahaan hitech sebagai seorang sales, hari itu dia menepati janji wawancara dengan kepala bagian perusahaan itu. Perusahaan itu baru berdiri, skalanya tidak besar, bertempat di dalam area teknologi ternama di bagian utara Taiwan.

Yang menangani wawancara dari perusahaan itu adalah direktur dan wakilnya sendiri. Pada mulanya direktur memperkenalkan secara singkat tentang keadaan perusahaan dan pengalaman dirinya.

Direktur dan wakilnya masih sangat belia, baru berusia 30-an tahun, tetapi mereka sudah menyandang gelar doktor di sebuah universitas ternama di Amerika. Oleh karena mereka memiliki keahlian teknologi canggih dan gagasan-gagasan baru, maka mereka memilih pulang balik ke negaranya untuk memulai suatu usaha.

Gelar doktor dari universitas ternama ditambah lagi dengan semangat muda, membuat direktur dan wakilnya selalu menampakkan semangat yang berkobar-kobar dan kepercayaan diri yang sangat tinggi.

Tetapi satu hal yang membuat temanku merasa janggal adalah, kata-kata yang sering diucapkan oleh wakil direktur, dimana boleh dikata hampir setiap ucapannya selalu di sertai kata-kata, “Anda jangan membohongi saya.”

Kebiasaan semacam ini seperti latah. Bahkan saat sedang berbincang dengan direktur pun, ia juga begitu. Pada mulanya teman saya ini sangat heran, tetapi keheranan tersebut akhirnya terungkap setelah apa yang dialaminya.

Direktur itu setelah memahami keadaan pendidikan dan pengalaman dari teman saya ini, dia menanyakan satu pertanyaan kepada teman saya, “Setelah masuk kerja sebagai sales, jika perusahaan memerlukan, apakah Anda bersedia bekerjasama dengan perusahaan menggunakan segala cara untuk mengumpulkan informasi pasar?”

Pada mulanya teman saya ini tidak terlalu mengerti apa maksud pertanyaan dari direktur itu, maka dia lalu meminta sang direktur menjelaskan sekali lagi.

Direktur pun lalu menjelaskan lebih lanjut, menanyakan pada dirinya kalau-kalau dia bersedia bekerjasama dengan perusahaan, dengan menggunakan identitas perseorangan pergi melamar dan bekerja di tempat pesaing perusahaan. Singkat kata, ia harus bersedia pergi bekerja ke lain perusahaan, menyusup sebagai mata-mata perusahaan.

Tentu saja, teman saya ini, yang sejak dulu selalu menjunjung moral dan keadilan langsung saja menolaknya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan segera meninggalkan kantor itu. Perusahaan itu ia masukkan dalam daftar black listnya, dan tidak akan pernah mau mengadakan kontak dengannya.

Dari kejadian yang dialaminya itu, teman saya itu akhirnya dapat mengerti mengapa dari mulut wakil direktur itu selalu terlompat kata-kata “Anda jangan membohongi saya”.

Tentulah tidak aneh, jika mereka bisa berpikir menuntut karyawannya pergi menyusup ke perusahaan lain untuk menjadi mata-mata, maka adalah wajar jika dia juga akan mencurigai setiap orang yang melamar pekerjaan di perusahaannya juga mungkin adalah mata-mata yang disusupkan oleh perusahaan lain. Oleh sebab itulah, setiap ucapan yang dikeluarkan dari mulut orang lain akan selalu ia curigai kebenarannya.

Selesai mendengarkan cerita ini, saya bersama teman saya jadi sangat prihatin, prihatin kepada dua orang doktor elit yang lulus dari universitas ternama di Amerika itu. Mungkin keprofesionalan mereka sudah mencapai taraf yang bagus, tetapi di luar dugaan mereka mempunyai konsep etika moral yang begitu menyimpang.

Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, persaingan dalam berdagang pun harus memiliki etika dan moralitas? Untuk mempertahankan daya saing perusahaan, maka satu-satunya jalan kita harus memperkuat kemampuan teknik dan inovasi.

Bila ingin menggunakan cara yang amoral untuk mendapatkan rahasia atau teknik dari perusahaan pesaing, maka ini bukanlah suatu cara yang bisa bertahan dalam jangka panjang.

Selain pihak lawan juga mungkin menggunakan cara yang sama untuk membalas, maka perlu dipertimbangkan bahwa kelak bila masalah ini terungkap, maka mungkin Anda akan dituntut untuk mengganti kerugian dengan nilai yang sangat besar. Dan yang lebih penting lagi, reputasi perusahaan (termasuk di dalamnya reputasi pribadi Anda) akan hancur karenanya. Begitu hancur, maka masa depan sudah tidak ada harapan lagi. (The Epoch Times/lin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: