Vitamin C: Zat Perantara Anti Kanker yang Menjanjikan

Image

DR. LINUS PAULING: Sebuah pendorong vitamin C dosis tinggi

Pemikiran bahwa vitamin C mungkin memiliki potensi pengobatan kanker telah ber-kembang selama beberapa dasawarsa. Mungkin saja almarhum Dr. Linus Paulin adalah orang yang paling terkait dengan konsep ini. Sepeninggalnya, perhatian terhadap konsepnya nampak sedikit memudar juga. Tetapi beberapa ilmuwan telah melanjutkan perhatiannya di bidang ini.

Contohnya, The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK, bagian dari National Institutes of Health) telah melanjutkan penelitian untuk topik ini. Kenyataannya, organisasi ini, baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan bahwa vitamin C yang disuntikkan ke dalam perut tikus telah mendorong mengecilnya ukuran tumor yang telah di tanamkan kedalamnya [1].

Sebuah artikel yang menguraikan laporan tersebut datang dari dua ilmuwan Linus Pauling Institute di Oregon [2]. Penulisnya (Balz Frie and Stephen Lawson) menyoroti fakta bahwa hasil kerja NIDDK menunjukkan bahwa vitamin C dosis tinggi telah terbukti menjadi toksik (racun) bagi sel kanker, tetapi membiarkan sel itu sendiri tetap normal.

Kualitas ini, dengan jelas, sangat dibutuhkan jika kita sedang berusaha memerangi kanker namun menginginkan tubuh yang normal tidak mengalami cedera. Frie dan Lawson berdiskusi seberapa tinggi dosis vitamin C dapat meningkatkan produksi hydrogen peroksida, yang diperkirakan merupakan zat utama yang menentukan sifat anti kanker dari vitamin C.

Frie dan Lawson melanjutkan menyoroti beberapa bukti lain di bidang ini. Mereka menunjuk pada sebuah studi yang dipublikasikan 1974 dimana 50 penderita kanker tingkat lanjut dirawat dengan infus vitamin C ke pembuluh darahnya (dengan dosis 5–45 gram/hari) atau lewat mulut 5–20 gram/hari [3].

Pada 19 penderita diantaranya, mengalami perlambatan, menjadi stabil, atau tumornya berkurang.

Mereka juga mengutip hasil studi lain dimana merupakan hasil perawatan 100 orang yang dirawat secara individu dengan vitamin C (melalui infus dan lewat mulut dengan dosis sekitar 10 gram/hari) dibanding dengan perawatan yang dilakukan secara kelompok (yang tidak diberi vitamin C) [4].

Pasien yang dirawat dengan vitamin C selamat sekitar empat kali lebih lama ketimbang yang dirawat secara kelompok.

Sebuah studi lanjutan melaporkan bahwa pasien yang diberi vitamin C memiliki waktu kelangsungan hidup rata-rata setahun lebih lama dari mereka yang diawasi secara kelompok [5].

Secara keseluruhan, 22% kelompok yang dirawat dengan vitamin C bertahan lebih dari satu tahun, dibanding yang cuma 0,4% dari kelompok yang bertahan tanpa mendapat perawatan dengan vitamin C.

Frei dan Lawson juga mengacu pada dua penelitian acak, kontrol-placebo (obat-obatan rekaan), pengujian double-blind (istilah yang digunakan untuk menguraikan suatu penelitian, di mana, peneliti maupun peserta tidak menyadari sifat alami perawatan yang diterima peserta. Dilakukan berdasarkan pemikiran untuk menghasilkan sasaran yang obyektif, supaya harapan peneliti dan peserta tentang perawatan yang bersifat percobaan seperti misalnya obat atau racun tidak mempengaruhi hasil. Juga disebut double-masked) vitamin C dan kanker-lanjutan yang disponsori oleh the National Cancer Institute.

Tidak satu pun dari percobaan ini menunjukkan efek positif dari vitamin C dalam hal kelangsungan hidup. Akan tetapi, percobaan dengan pemberian vitamin C melalui-mulut sendiri, dan sebagaimana yang ditekankan Frei dan Lawson, nampaknya menunjukkan bahwa tingkat kecukupan vitamin C tidak memungkinkan akan memberi keuntungan.

Penulis selanjutnya menunjuk pada dua studi terkini yang telah menguji dosis tinggi vitamin C sudah diuji keamanannya pada manusia. Pernah kondisi tertentu telah diuji, nampaknya manusia mempunyai toleransi yang besar sekali terhadap vitamin C.

Mereka mengakhirinya dengan mengatakan bahwa para ilmuwan yang melakukan penelitian pada tikus sekarang telah mengeksplorasi potensi vitamin C dosis tinggi untuk perawatan kanker pada manusia.

Marilah kita berharap perawatan ini murah dan statusnya yang tidak dapat dipatenkan tidak dapat menyembunyikan keunggulan pada nutrisi ini sebagai sebuah pengantar anti kanker.

Referensi:
1. Chen Q, et al. Pharmacologic doses of ascorbate act as a pro-oxidant and decrease growth of aggressive tumor xenografts in mice. Proceedings of the National Academy of Sciences 2008; 105:11105–11109
2. Frei B, et al. Vitamin C and cancer revisited. Proceedings of the National Academy of Sciences 2008; 105(32): 11037–11038
3. Cameron E, et al. The orthomolecular treatment of cancer. II. Clinical trial of high-dose ascorbic acid supplements in advanced human cancer. Chemico-Biological Interactions 1974; 9:285–315.
4. Cameron E, et al. Supplemental ascorbate in the supportive treatment of cancer: Prolongation of survival times in terminal human cancer. Proceedings of the National Academy of Sciences 1976; 73:3685–3689.
5. Cameron E, et al. Supplemental ascorbate in the supportive treatment of cancer: Reevaluation of prolongation of survival times in terminal human cancer. 1978; Proceedings of the National Academy of Sciences USA 75:4538–4542.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: