Gua terbesar Bawah Tanah Buatan Manusia

ImageDitemukan di Lembah Jordan, Israel, sebagai bagian dari penelitian arkeologi sejak 1978, para penggali dari Universitas Haifa telah menemukan gua bawah tanah buatan terbesar yang pernah dibangun di Israel.

Seperti yang dikatakan Prof. Adam Zertal, pengawas proyek galian kepada The Epoch Times, “Saat kami baru melakukan penggalian, tiba-tiba datang dua orang Bedouins, seorang bapak dan anak, memperingatkan kami untuk tidak turun ke bawah, ia memberitahu kami bahwa ada kutukan pada gua itu dan ada predatornya (seperti serigala dan hyena).”

Namun saat kami memasuki gua, kami tidak menjumpai adanya serigala ataupun hyena, melainkan sebuah ruang bawah tanah yang luas dan megah yang ditopang oleh 22 pilar, yang masing-masing dihiasi dengan berbagai simbol.

Baca entri selengkapnya »

REVOLTASE SECRET SOCIETIES

Image

Image

Image

Serangga Raksasa Pernah Menguasai Bumi

Pernah pada suatu masa, di mana di atas bumi ini muncul sejumlah besar “makhluk raksasa”, dan “makhluk-makhluk raksasa” ini, bukan dinosaurus yang menguasai zaman Mesozoikum, mereka adalah binatang raksasa Artropoda (binatang bertungkai ruas) Carboniferous di masa Paleozoikum pada 300 juta tahun silam. Sejak jutaan tahun silam jauh sebelum adanya dinosaurus, makhluk-makhluk mahabesar ini telah berkelana di dunia jagat raya. Waktu itu telah muncul serangga, kalajengking, dan laba-laba yang superbesar, dan sejumlah besar serangga raksasa yang tidak bisa terbang, serta makhluk Artropoda yang panjangnya 2,5 meter. Di antaranya golongan binatang yang paling menarik perhatian waktu itu adalah capung raksasa, bentangan sayapnya kurang lebih ada 1,25 meter, mereka adalah serangga raksasa terbesar yang pernah eksis di bumi.

Spesies-spesies raksasa ini berkembang biak dengan subur pada sekitar 300 juta tahun silam, dan waktu itu bumi merupakan sehamparan daerah tropis yang hijau, di mana-mana adalah tumbuhan merambat (tumbuh-tumbuhan ini kemudian membentuk arang, dan ini juga kenapa semasa itu disebut Carboniferous), akan tetapi kurang lebih 50 juta tahun kemudian, binatang-binatang Artropoda yang maharaksasa ini punah dari muka bumi pada masa pertengahan zaman perem.

Semenjak dulu ilmuwan memrediksi, bahwa oksigen dalam atmosfer memainkan peranan penting dalam proses kesuburan dan pemusnahan spesies-spesies ini. Penelitian yang diarahkan pada cuaca zaman prasejarah dan penelitian terkait lainnya yang diadakan oleh ahli geologi dari Universitas Yale Dr. Bonna baru-baru ini, memperkuat konsepsi tentang naiknya kepadatan oksigen –semasa zaman karbon Iferous, tingkat kepadatan oksigen di atmosfer kurang lebih 35%, dan kepadatan oksigen saat ini hanya berkisar 21%. Oleh karena binatang Artropoda tanpa kecuali adalah secara langsung menyerap oksigen melalui pipa pernapasan kecil yang terbesar di seluruh jaringan tubuh, bukan secara tidak langsung menyerap oksigen melalui cairan darah, dan mungkin karena kepadatan oksigen tersebut yang menyebabkan binatang-binatang raksasa itu dapat berevolusi dan hidup.

Akan tetapi, kemungkinan lainnya juga ada, misalnya kurangnya makanan yang dapat ditangkap. Namun pada dasarnya, saat ini masih belum ada orang yang memastikan mengapa muncul makhluk mahabesar ini pada zaman karbon. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan, bahwa oksigen yang lebih padat memang benar-benar bisa mengakibatkan sejumlah dampak terhadap volume tubuh spesies. Ambil sebuah contoh misalnya, penelitian terhadap binatang samudera yang tidak bertulang belakang, ditemukan spesies yang agak besar, dengan suhu yang agak hangat, dan antarperairan yang kandungan oksigennya lebih tinggi terdapat suatu hubungan pertalian. Pada dasarnya, jika jumlah kandungan oksigen di perairan semakin tinggi, maka makhluk hidup yang hidup di dalamnya akan semakin besar.

Dan mengenai kenapa oksigen yang semakin banyak bisa menciptakan serangga yang semakin besar? Prof. Harrison dari Universitas Arizona mengemukakan sebuah pandangan, ia berpendapat bahwa oksigen mungkin adalah suatu katalis pergantian kulit binatang Avertebrata. Harrison mengatakan, bahwa sebelum binatang Avertebrata mengganti kulit, umumnya bobotnya bisa meningkat satu kali lipat.

Dan pada masa tersebut, volume pipa pernapasan di tubuh mereka tidak mengalami perubahan, tetap memelihara ukurannya sebelum pergantian kulit, namun pipa pernapasan ini malahan bisa menggunakan oksigen yang lebih banyak untuk memberi pertumbuhan individual. Iklim zaman karbon Iferous Paleozoikum memberikan semakin banyak oksigen saat proses pergantian kulit, mendorong pertumbuhan yang semakin besar pada Artropoda. Harrison mengatakan bahwa mekanisme ini mungkin dapat menjelaskan gejala tersebut.

Keterangan foto: Suatu serangga yang langka bernama Lord Howe Island Stick Insect di Melbourne, Australia. (AFP)

(Sumber: Artikel Ziyou Shibao, Dajiyuan)

Peninggalan di Kota China Kuno Memperlihatkan Teknologi yang Tinggi

Image

Seorang Pekerja Sedang Mengawasi Lokasi Penggalian
(Frederic J. Brown/AFP/Getty Images)

Di Lingjiatan, Kabupaten Hanshan di Provinsi Anhui, China, para arkeolog telah menemukan situs peninggalan suku primitif yang pernah dihuni 5.000 tahun yang lalu. Teknologi pengeboran yang hebat dan kepingan bor batu tertua di dunia juga ditemukan dil okasi tersebut. Profesor bidang arkeologi, Zhang Jingguo mengatakan banyak misteri yang belum terpecahkan pada reruntuhan tersebut.

Reruntuhan yang terletak di Desa Lingjiatan, kota praja Tongzha di Kabupaten Hanshan, Kota Chaohu – Provinsi Anhui, luasnya meliputi areal sekitar 1,5 juta meter persegi. Para arkeolog mengatakan kota berusia 5.000 tahun tersebut mungkin adalah kota yang maju dan makmur dengan berbagai bangunan, peternakan hewan dan barang kerajinan yang telah maju. Penemuan sebelumnya kota tertua serupa di China yang telah diakui oleh para arkeolog terletak di Desa Dantu, Kabupaten Wulian, Kota Rizhao di Provinsi Shandong, yang dibangun lebih dari 4.000 tahun yang lalu.
Awal penemuan reruntuhan yang paling penting dari zaman Neolitikum adalah musim gugur tahun 1985. Seorang penduduk desa bernama Wan Chuancang saat menggali liang kubur menemukan cincin giok, kapak dan pahat batu.

Dari tahun 1987 hingga 2000, dari empat penggalian pada situs tersebut. Ditemukan lebih dari 1.200 peninggalan berharga termasuk sebuah altar, 66 kuburan, batu giok olahan, peralatan batu dan barang tembikar dari jaman Neolitikum. Di antaranya adalah giok naga tertua dan sekop batu terbesar yang pernah ditemukan di China. Hal ini mendukung teori yang mengatakan Lembah Danau Chaohu adalah tempat lahirnya kebudayaan China yang amat penting.

Teknologi Pengeboran yang Hebat
Reruntuhan Lingjiatan memiliki koleksi barang dari batu giok terbanyak. Untuk memeriksa koleksi tersebut digunakan stereomikroskop untuk meneliti teknologi perawatan giok pada waktu itu. Dengan pembesaran 50 kali, mereka menemukan lubang kecil di balik sebuah patung giok. Diameter lubang hanya 0,15 milimeter. Yang memerlukan mata bor dengan diameter sedikit lebih tebal dari sehelai rambut. 5.000 tahun yang lalu, sebelum logam dipergunakan sebagai peralatan, menunjukkan telah menggunakan teknologi maju.

Ditemukan juga alat bor yang terbuat dari batu berbentuk lebar di atas dan kecil di bawah dengan mata bor pada kedua ujungnya. Bor tersebut berbentuk sekrup, menunjukkan penduduk Lingjiatan telah mengenal kekuatan putaran dan daya sentrifugal, hal yang mengejutkan para arkeolog betapa canggihnya alat bor batu ini. Pengetahuan mereka tentang fisika, matematika, geometri, dan mekanika sepertinya cukup maju.

Para arkeolog juga menemukan peninggalan batu-batuan besar setinggi 10 meter di Lingjiatan dibangun lebih dari 1.000 tahun lebih awal daripada Stonehenge di Inggris. 5.000 tahun yang lalu, orang-orang di Lingjiatan seharusnya hanya menggunakan peralatan batu dan kayu; tidak jelas bagaimana mereka mampu memotong dan memindahkan batu-batuan besar dan berat seperti itu.
(Sumber : www.theepochtimes.com)

Di Laut Hitam Terdapat Bangunan Peninggalan Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Image

Sekelompok peneliti underwater surveyors yang diketuai oleh Dr. Robert Ballard, yang juga telah menemukan Titanic, telah menemukan sebuah bangunan lama berusia kira-kira 7.500 tahun di dasar Laut Hitam, dekat pantai Turki. Mereka telah menemukan struktur bangunan dari batu dan kayu di kedalaman beberapa ratus kaki. Penemuan mereka menjadi bukti dari kejadian banjir besar di zaman Nabi Nuh.

Para ilmuwan mempercayai bahwa penemuan tersebut membuktikan keberadaan sebuah kawasan yang telah tenggelam yang disebabkan oleh banjir besar yang melanda sekitar 5000 SM. Menurut teori mereka, banjir besar tersebut disebabkan oleh adanya pencairan gletser dari tanah tinggi di Eropa. “Ini merupakan penemuan yang sangat menakjubkan,” kata Dr. Ballard di dalam rancangan National Geographic Society bertajuk “Research Ship Northern Horizon”.

Ballard menerangkan bagaimana sebuah robot bawah air meninjau 300 kaki di bawah permukaan air, telah menemukan kawasan segi-empat berukuran 12 x 45 kaki persegi, di mana terdapat sebuah struktur dari kayu dan tanah liat yang telah runtuh. “Beberapa artefak yang ditemukan di sana tersimpan rapi yang terdiri dari kayu berukir, beberapa cabang kayu dan peralatan dari batu yang telah runtuh dan diselimuti lumpur,” imbuh Ballard.

Dr. Ballard dan timnya mengawali penelitian di kawasan tersebut setelah dua kapal selam pakar geologi dari Universitas Colombia di New York menyatakan bahwa keadaan tersebut disebabkan oleh banjir besar ribuan tahun sebelumnya. Mereka meramalkan apabila zaman es berakhir 12.000 tahun yang lalu, maka gletser mulai mencair. Kawasan timur Mediterania yang terputus dari Laut Hitam telah menyebabkan Laut Hitam tidak tenggelam oleh air walaupun permukaan air laut yang lain telah naik. Hal ini menyebabkan pada sekitar 7.000 tahun yang lalu, genangan awal di Bosphorus telah pecah menyebabkan air di Laut Mediterania melimpah ke timur menjadi Laut Hitam yang memang terputus dari laut-laut yang lain. Kekuatan limpahan air tersebut diperkirakan 10.000 kali daripada air terjun Niagara.

Mereka menyatakan bukti ilmu pengetahuan, menunjukkan bahwa kulit kerang dari kawasan tersebut berusia lebih 7.000 tahun, manakala kulit kerang dari laut lain berusia sekitar 6.500 tahun. Ballard menerangkan, “Banyak kasus yang terjadi apabila air tawar dari sebuah telaga berubah menjadi air asin dan dampak banjir besar tersebut menyebabkan kawasan daratan yang sangat luas berubah menjadi dasar laut”. (Sumber: James Chapman, Daily Mail, UK)