1. Sayuran yang lebih awal muncul di pasaran, dikarenakan tidak sesuai dengan iklim udara dan tidak tepat musimnya, pada umumnya obat pembunuh hama yang digunakan berjumlah besar, oleh karena itu perlu dicuci berulang kali.
2. Membasuh sayuran sebaiknya menggunakan air PDAM. Sayuran yang menggunakan obat pembunuh hama golongan Liposolubility, tidak mudah untuk dibersihkan dengan air garam.
3. Sayuran sebaiknya tidak dicuci setelah dipotong-potong, hal ini untuk menghindari hanyutnya gizi yang terkandung.
4. Sayuran sebaiknya tidak dimakan mentah, kalau harus dimakan mentah, perlu dicuci berkali-kali.
5. Sayuran yang disiram dengan air mendidih jauh lebih baik daripada dimasak. Saat menyiramnya dengan air mendidih, sebagian pestisida akan menguap melalui uap air.
6. Saat membasuh sayuran, sebaiknya dicuci sambil direndam dalam air baskom, kemudian baru disiram di bawah air kran.
7. Sayuran sejenis kol atau sawi-sawian, lembaran sayur yang ada diluar perlu dibuang terlebih dulu, lalu kupas, kemudian siram sambil dicuci perlembar.
8. Sejenis sawi China akarnya harus dipotong dahulu, lalu secara tegak disiram, dicuci.
9. Pare, mentimun kalau kulitnya tidak dikupas, harus disikat dengan sikat yang bulunya lembut.
10. Untuk jenis sayuran seperti kacang polong, labu parang, kucai, mentimun dan lain-lain, dikarenakan masa petiknya dalam jangka waktu lama, dan untuk menghindari bagian yang belum masak diserang hama serangga, maka penggunaan pestisida sedikit lebih banyak, oleh karena itu perlu dicuci berulang kali.(cen)
WASHINGTON – Menurut studi Amerika Serikat yang dipublikasikan bulan ini, wanita muda yang merokok mempunyai resiko stroke lebih dari dua kali lipat dibandingkan mereka yang bukan perokok, dan mereka yang perokok-berat beresiko sembilan kali lipat.
Penelitian menilai resiko stroke pada wanita berusia 15–49 tahun yang merokok. Dewasa ini para perokok memiliki kemungkinan terkena stroke 2,6 kali dibanding wanita yang tidak pernah merokok, kata para peneliti yang dipimpin oleh Dr. John Cole dari University of Maryland School of Medicine di Baltimore.
Wanita yang merokok paling berat menghadapi kenaikan resiko tertinggi, seperti yang disampaikan oleh studi di American Heart Association’s journal Stroke.
Sebagai contoh, wanita yang merokok 21–39 batang rokok per hari mempunyai resiko stroke 4,3 kali lebih tinggi dibanding mereka yang bukan perokok, sementara mereka yang menghabiskan paling tidak 2 bungkus rokok sehari (40 batang) mempu-nyai resiko stroke 9,1 kali dibanding mereka yang bukan perokok.
Telah diketahui sejak lama bahwa merokok dapat meningkatkan resiko stroke, disamping penyakit berbahaya lainnya seperti kanker paru-paru dan beberapa jenis kanker lain, penyakit paru-paru (TBC), dan penyakit jantung.
Namun Cole mengatakan, bagaimana jumlah rokok yang dihabiskan oleh seseorang dapat mempengaruhi resiko stroke, masih kurang diketahui.
Umumnya stroke terjadi pada orang-orang yang lebih tua daripada populasi di studi ini, namun penelitian menunjukkan, bahkan pada wanita yang lebih muda, resiko stroke tetap meningkat tajam.
“Semakin banyak Anda merokok, semakin besar kemungkinan Anda terkena stroke,” kata Cole dalam suatu wawancara telepon. Tentu saja berhenti merokok adalah hal terbaik bagi Anda. Namun mengurangi rokok juga dapat memberikan beberapa manfaat.”
Para peneliti menelusuri 466 wanita Amerika Serikat yang telah terkena stroke dan 604 wanita yang belum terkena stroke dengan usia, ras dan suku bangsa yang sama.
Kira-kira seperlima wanita Amerika Serikat dengan usia 18–24 tahun adalah perokok, kata para peneliti.
Cole mengatakan bahwa dia merencanakan studi yang serupa, dengan fokus pada resiko stroke pada pria muda yang merokok. (Reuters Health/tnm/feb)
Berjalan sedikit lebih banyak setiap hari dapat membantu penderita diabetes mengontrol diabetes tipe-2 (penyakit kencing manis yang sudah tergantung pada suntikan insulin) yang dideritanya, namun penderita obesitas yang sedang berusaha menjaga kestabilan berat badannya mungkin memerlukan olah raga yang lebih keras daripada apa yang telah mereka pikir selama ini, menurut studi yang baru-baru ini dipublikasikan.
Hanya dengan berjalan 45 menit lebih lama setiap harinya, akan membantu kadar gula darah penderita diabetes menjadi lebih baik, tulis Michael Trenell dan koleganya dari Britain’s Newcastle University dalam journal Diabetes Care.
“Orang sering berpikir, bahwa berolahraga itu sungguh tidak mengenakkan, namun apa yang telah kami temukan menunjukkan bahwa hampir semua penderita diabetes menjadi lebih aktif setelah berjalan kaki,” kata Trenell.
Tim The Newcastle membandingkan 10 pasien penderita diabetes tipe-2 dengan orang yang tidak menderita diabetes tipe-2, yang memiliki tinggi, berat badan, dan umur yang hampir sama dan meminta mereka untuk berjalan lebih dari 10.000 langkah setiap harinya.
Magnetic resonance imaging atau MRI scans memperlihatkan bahwa orang yang berjalan kaki selama 45 menit atau lebih setiap harinya, 20% lemaknya terbakar meningkatkan kemampuan ototnya untuk menyimpan gula dan membantu mengendalikan diabetes, kata para peneliti.
“Yang menarik dari studi ini adalah kenyataan bahwa berjalan-kaki dapat memberikan cara cepat untuk mengontrol diabetes tanpa obat tambahan apapun,” kata Trenell.
Diabetes mempengaruhi kira-kira 246 juta orang dewasa di seantero dunia dan mengakibatkan 6% dari seluruh kematian. Diabetes tipe-2 mengakibatkan kira-kira 90% dari semua kasus diabetes dan sangat erat terkait dengan obesitas dan cacat fisik.
Obesitas dan diabetes merupakan permasalahan yang banyak diidap di negara-negara berkembang karena meniru gaya hidup Barat, hal yang diperkirakan oleh International Diabetes Federation akan mendorong jumlah penderita diabetes hingga mencapai 380 juta pada 2025.
Tetapi panduan olah raga saat ini, yang menyarankan untuk menyediakan waktu 150 menit -2,5 jam- seminggu– mungkin tidak cukup bagi penderita obesitas untuk mengurangi berat badannya, tulis John Jakicic dan koleganya dari University of Pittsburgh dalam the Archives of Internal Medicine.
Untuk menentukan jumlah jam yang optimal untuk berolah raga, tim Amerika melibatkan 201 wanita yang memiliki kelebihan berat badan dan penderita obesitas dalam sebuah program penurunan berat badan antara 1999 – 2003 dan memberikan 1 tugas untuk empat kelompok olah raga.
Setelah enam bulan, wanita dalam keempat kelompok itu mengalami penurunan berat badan rata-rata 8 hingga 10% dari berat badan semula, namun banyak yang kemudian meningkat kembali.
Para wanita yang diminta menambah waktu olah raga selama satu jam setiap hari, berat badannya tidak kembali, kata para peneliti. Wanita-wanita ini sepertinya juga patuh pada diet yang sehat.
Jakicic merekomendasikan bila ingin mengurangi berat badannya dan tetap stabil, tidak meningkat lagi, paling tidak mesti berolah raga paling sedikit 4 ½ jam seminggu.
“Ada kesepakatan yang berkembang bahwa lebih banyak berolah raga mungkin penting untuk meningkatkan penurunan berat badan jangka panjang, tutup Jakicic dan rekan. (rtr/tnm/feb)
Oleh: Dr. JOHN BRIFFA, Special to The Epoch Times
Studi jangka panjang menunjukkan bahwa anak-anak Guatemala yang diberi makanan berprotein tinggi sejak mereka mulai belajar berjalan, fungsi psikologis dan status pekerjaan mereka meningkat bertahun-tahun kemudian.
Diet nutrisi di awal masa kanak-kanak memberikan perkembangan akhir yang mungkin tidak terlihat nyata hingga mereka dewasa, menurut studi jangka panjang dari anak pedesaan Guatemala yang diumumkan Juli 2008.
Selama 8 tahun sejak 1969, sebuah percobaan dilakukan di 4 desa yang berlokasi di sebelah timur laut dataran tinggi Guatemala dimana ratusan penduduk desa diberi makanan kaya protein, bubur manis, sementara yang lain diberi minuman bergula tanpa nutrisi yang berarti.
Tiga dasa warsa berikutnya, banyak anak dengan usia 2 tahun atau dibawahnya dan saat ini telah dewasa, diuji kemampuan membaca dan ketrampilan nonverbalnya seperti pengenalan pola.
“Pengaruh pemberian nutrisi yang lebih baik dalam dua tahun pertama hidupnya berdampak pada performa hasil percobaan yang secara kasar setara dengan pengaruh yang terjadi selama penambahan umur masa sekolah,” kata peneliti Aryeh Stein dari Emory University di Atlanta dalam wawancara telepon.
Secara keseluruhan, anak-anak Guatemala rata-rata bersekolah selama 4 tahun, tetapi mereka yang makan bubur nutrisi, rata-rata mengikuti sekolah setengah tahun lebih lama dibandingkan mereka yang mendapatkan minuman yang diberi pemanis.
Rata-rata anak perempuan mampu bersekolah sekitar satu tahun lebih lama. Mereka yang mengonsumsi bubur juga rata-rata lebih tinggi sekitar 0,8 inchi.
Suatu studi serupa yang dipublikasikan pada Februari menemukan bahwa bubur bernutrisi yang diberikan pada anak lelaki Guatemala berusia 3 tahun dan dibawahnya, mendapatkan keuntungan bertahun-tahun kemudian, dengan penghasilan per jam mereka saat dewasa 46 persen lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mendapatkan diet protein.
Keuntungan pengembangan dari diet nutrisi nampaknya mendorong para orang tua untuk mengirimkan mereka ke sekolah yang lebih lama, kata Stein. Hal itu juga mungkin telah membantu perkembangan anak-anak muda untuk lebih berinteraksi dengan lingkungan mereka dan, kemudian, memiliki kemampuan lebih untuk menyerap apa yang telah ditawarkan sekolah.
Dimungkinkan juga bahwa nutrisi yang telah diberikan, mendorong perkembangan fisik otak mereka, tetapi peneliti tidak memiliki bukti mengenai hal tersebut.
Di sekitar waktu yang sama, sedikitnya ada tiga percobaan serupa yang berlangsung di Kolombia, Taiwan, dan diantara penduduk miskin New York yang dievaluasi keuntungankeuntungan nutrisi dan intervensi lain pada perkembangan anak.
“Studi kami, seperti studi lainnya memiliki bukti kemanjuran dampak yang terbatas dari nutrisi dalam jangka pendek,” lanjut Stein.
“Namun saat ini kita sedang melihatnya… Hal itu membutuhkan waktu perkembangan yang lebih lama. Anda harus memiliki anak yang melalui masa sekolah dahulu untuk melihat perbedaannya.”
Pada saat itu, para peneliti berdebat apakah etis memberi protein pada sebagian penduduk desa sementara menjatuhkan yang lain. Saat ini, keberatan atas studi itu boleh jadi karena minuman yang mengandung gula dapat mendorong ke arah obesitas atau permasalahan lain, tutup Stein. (Reuters Health/tnm/feb)
Tekanan kejiwaan dan kegelisahan dapat menyebabkan serangan alergi musiman semakin parah dan dapat mengakibatkan alergi menetap lebih lama, demikian menurut penelitian yang dipublikasikan Agustus lalu, dalam pertemuan tahunan American Psychological Association di Boston.
“Seseorang mungkin sedang mengalami masalah alergi pada dirinya serta merasa tertekan dan gelisah ketika alergi menyerangnya, ” Dr. Janice Kiecolt-Glaser, professor of psychology and psychiatry di Ohio State University, Columbus menjelaskan dalam wawancara telepon dengan Reuters Health.
Untuk mengukur seberapa besar stress dan kegelisahan mempengaruhi penderita alergi, Kiecolt-Glaser dan koleganya melibatkan 28 pria dan wanita yang memiliki sejarah medis menderita alergi debu dan alergi musiman untuk bergabung dalam laboratorium studi.
Pada hari yang berbeda, relawan diperlakukan dalam kondisi stres ringan –membaca majalah dengan diam– dan kondisi stres yang benar-benar berat –dengan memberikan ceramah videotape selama 10 menit di depan sekelompok penilai perilaku dan mengerjakan soal matematika tanpa kertas atau pena di depan kelompok tersebut dan kemudian melihat penampilan mereka sendiri lewat videotape.
Para peneliti melakukan penilaian tingkat stres dan kegelisahan para relawan dan mengambil tes alergi standar dengan uji tusuk kulit (skin-prick test) sebelum dan sesaat setelah stress terjadi, demikian juga di hari berikutnya.
Kegelisahan yang mengikuti stress berat, dikatakan para peneliti, meningkatkan reaksi alergi melalui uji tusuk kulit (skin-prick test). Reaksi alergi ini nampak pada lengan bawah sebagai luka ringan atau luka gores semacam biduran atau kaligata.
Orang yang cukup stress dalam percobaan menderita bercak 75% lebih besar seusai mengalami stres berat dibandingkan dengan respon yang terjadi pada orang yang sama setelah keadaan stres ringan.
Orang dengan stres tinggi memiliki bercak dua kali lipat setelah mereka diberi tekanan dibandingkan ketika mereka tidak mengalami tekanan. Lebih dari itu, orang dengan stres tinggi ini nampak menunjukkan empat kali lipat bercak alergi sepanjang hari setelah kejadian stres berat.
Ini menunjukkan, kata para peneliti, bahwa orang dengan stres berat memiliki respon yang berkelanjutan dan menguatkan zat-zat penyebab alergi. “Nampaknya stres mempengaruhi mereka hingga ke hari berikutnya,” jelas Kiecolt-Glaser. Begitulah, menjadi stres nampaknya menyebabkan alergi seseorang memburuk pada hari berikutnya.
Menurut ahli immunologist Negara Bagian Ohio, Dr. Ronald Glaser, yang terlibat dalam studi ini, kegelisahan yang lebih parah terkait dengan meningkatnya produksi hormon stres dalam tubuh yang disebut catecholamines dan protein yang berhubungan dengan peradangan yang disebut interleukin6. Dia berpendapat meningkatnya kedua komponen ini merupakan penyebab tertundanya reaksi alergi.
Respon alergi yang tertunda ini “benar-benar yang terburuk dari suatu alergi,” Kiecolt-Glaser menekankan, karena mereka secara khusus tidak responsif terhadap antihistamin. Dia, menyarankan untuk tetap menjaga stres pada skala minimum, bila memungkinkan, selama periode alergi terjangkit. (rtr/tnm/feb)
Pengidap diabetes mungkin ingin mulai menambahkan bumbu masak pada makanannya, bila penemuan baru pada penelitian laboratorium ini terbukti pada manusia.
Dalam tabung percobaan laboratorium, para peneliti di University of Georgia, Athena, menemukan bahwa ekstrak beragam herbal dan rempah-rempah – seperti kayu manis, cengkeh, sage, dan rosemary– dapat menghambat proses perusakan yang di-sebabkan oleh tingginya kadar gula darah.
Ketika kadar gula darah tinggi, seperti yang diidap penderita diabetes secara kronis, dapat mendorong pembentukan susunan zat yang dikenal sebagai komponen AGE. Komponen ini, pada gilirannya, menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan otot, yang dapat mengakibatkan penyumbatan arteri dan penyakit jantung, umumnya berkaitan dengan diabetes.
Namun, paling tidak di laboratorium, sejumlah daun penyedap dan rempah-rempah nampaknya dapat membendung proses kimia yang membentuk komponen AGE tersebut, menurut penemuan baru yang dipublikasikan dalam Journal of Medicinal Food.
Apakah proses tersebut dapat terjadi di dalam tubuh manusia, belum diketahui dengan pasti. Dan bahkan walaupun hal tersebut benar, sajian makanan yang berbumbu tidak akan dapat menggantikan kontrol gula darah baik bagi pengidap diabetes, kata Dr. James L. Hargrove, seorang associate professor of foods and nutrition di the University of Georgia dan seorang peneliti utama.
Tetapi dia mengatakan kepada Reuters Health, “Ada alasan untuk menaruh harapan pada penelitian yang akan dikerjakan dalam beberapa tahun mendatang.”
Sementara itu, tidak akan membahayakan siapa pun dengan menambahkan daun penyedap dan rempah-rempah pada makanan mereka, catat Hargrove.
Manfaat anti–AGE dari daun penyedap dan rempah-rempah nampaknya diperoleh dari antioksidan tanaman yang disebut phenol, yang tersedia dalam konsentrasi tinggi pada produk penelitian Hargrove dan rekan-rekan studinya–semua bahan yang memiliki tingkat kekeringan yang beragam dibeli oleh para peneliti dari supermarket lokal.
Ketika mereka menguji kandungan phenol pada masing-masing rempah, kayu manis, cengkeh dan allspice Jamaika berada di peringkat paling atas; rempah-rempah itu juga menunjukkan potensi terbesar dalam membendung konfigurasi komponen AGE. Herba paling potensial adalah sage, marjoram (tanaman yang mengandung zat permen), tarragon, and rosemary.
Herbal dan rempah-rempah, kata Hargrove, adalah sumber antioksidan yang paling tinggi dalam makanan. Dia mencatat bahwa kayu manis, misalnya, mempunyai 50 hingga 100 kali “daya antioksidan” per unit berat ketimbang buah-buah berry segar (seperti raspberry, blackberry, strawberry dan lain sebagainya).
Menurut Hargrove, hal yang paling “menarik” dalam penelitian daun penyedap dan rempah-rempah adalah komponen dari tanaman tersebut yang tidak hanya menyediakan antioksidan bagi diri mereka sendiri tetapi juga bekerja pada sel tubuh kita untuk mengatur pertahanan antioksidan tubuh kita. Sumber: Journal of Medicinal Food, Juni 2008 (rtr/tnm/feb)
Beta-karoten (nutrisi yang menentukan warna oranye pada wortel) terbentuk dari keluarga nutrisi yang dikenal dengan ‘caro-tenoids’. Beta-karoten memiliki peran antioksidan, yang berarti membantu menetralkan molekul yang rusak yang dikenal sebagai ‘radikal bebas’. ‘Radikal bebas’ memainkan peran terhadap sengatan sinar matahari, karena sengatan sinar matahari dapat meningkatkan produksi ‘radikal bebas’ dalam kulit. Maka dikatakan dalam teori, semakin banyak beta-karoten dalam tubuh, semakin besar tubuh terlindungi dari bahaya sengatan matahari.
Beberapa studi telah meneliti apakah beta-karoten memerankan fungsinya dalam keseharian, dan studi yang sedang saya tekuni saat ini, telah mencakup tujuh studi yang menyangkut topik ini, dan menyatukannya dalam sebuah “meta-analisis”. Dalam studi perorangan, dosis beta-karoten berkisar antara 15 miligram hingga 180 miligram setiap harinya.
Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa beta-karoten benar-benar mempunyai kapasitas menawarkan perlindungan terhadap sengatan matahari. Studi ini juga meneliti seberapa lama seseorang memerlukan konsumsi beta-karoten sebelum kulit mereka ‘diremajakan.’ Paling tidak jawabannya membutuhkan beberapa minggu. Maka, maaf jika Anda belum menaikkan dosis beta-karoten, maka Anda akan kehilangan kesempatan di tahun ini. Namun di sisi lain, selalu ada kesempatan untuk tahun berikutnya. (tnm/epochtimes)
Menurut riset terbaru para ibu baru mungkin bisa mengembalikan berat badan mereka seperti saat sebelum kehamilan melalui pemberian ASI eksklusif pada bayi mereka.
“Praktek pemberian ASI eksklusif membantu menurunkan berat badan yang naik selama masa kehamilan dan melakukannya lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak mempraktekkan pemberian ASI eksklusif,” seperti yang dikatakan Dr. Alex Kojo Anderson dari University of Georgia di Athena kepada Reuters Health.
Anderson dan tim membandingkan berat badan 24 ibu dengan usia 1942 tahun pada masa pra-kehamilan dan saat-melahirkan, dengan berat badan 12 minggu pasca-kelahiran. Tujuh belas ibu memberikan ASI eksklusif pada bayi mereka, sedangkan sembilan ibu lain memberikan susu formula atau kombinasi susu formula dan ASI pada bayi mereka.
Menurut hasil penelitian, yang diterbitkan secara online di International Breast-feeding Journal, selama 4 minggu pertama pasca-kelahiran, kelompok ibu yang memberikan kombinasi susu formula mengalami penurunan berat badan lebih banyak pada saat-melahirkan dibandingkan kelompok ibu yang memberikan ASI eksklusif. Namun demikian, setelah 8-12 minggu, kecenderungan ini menjadi terbalik.
Ketika tim Anderson membandingkan penurunan berat badan pada masa pasca-kehamilan dengan berat badan masa pra-kehamilan, kelompok ibu yang memberikan ASI eksklusifnya mengalami penurunan berat badan lebih besar pada 2, 4, 8, dan 12 minggu pasca kelahiran dibandingkan kelompok ibu yang memberikan susu formula.
Kecenderungan penurunan berat badan ini merupakan bukti yang nyata kendati kalori yang dikonsumsi lebih besar dan tingkat aktivitas para ibu yang memberikan ASI ekslusif lebih rendah, dibandingkan dengan kelompok para ibu yang memberikan susu formula, demikian peneliti menemukan.
Lebih dari itu, “secara statistik, kecenderungan prosentase penurunan berat badan lebih jelas terlihat diantara para ibu yang memberikan ASI eksklusif dibandingkan kelompok yang lain,” tambah Anderson.
“Hasil penelitian kami membuktikan lebih lanjut bahwa pemberian ASI eksklusif meningkatkan penurunan berat badan diantara para ibu dibandingkan pemberian kombinasi susu formula, bahkan pada masa awal periode postpartum (periode setelah melahirkan sampai masa nifas habis) sekalipun,” kata Anderson dan rekan. Keberanian para ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi mereka adalah satu cara untuk membantu wanita-wanita ini menghindari kelebihan berat badan atau mengalami kegemukan, simpul mereka. (reuters health/feb)
Sumber: International Breastfeeding Journal, Agustus 2008
Akhir-akhir ini makin banyak orang yang memilih sayuran tunas untuk sayur. Di antara sayuran tunas, kecambah kacang hijau dianggap sebagai sayur termurah, tetapi memiliki gizi yang berlimpah.
Kecambah kacang hijau ini bahkan merupakan salah satu makanan yang mendapat penghargaan. Kecambah kacang hijau pada proses pertumbuhannya, kadar vitamin C akan meningkat banyak, bahkan sebagian protein dapat memecah menjadi asam amino yang dibutuhkan tubuh, kandungannya dapat mencapai tujuh kali lipat dari kandungan aslinya, maka kecambah kacang hijau ini punya nilai gizi yang lebih tinggi dari kacang hijau.
Ditinjau dari ilmu gizi, jumlah panas yang dihasilkan kecambah kacang hijau sangat rendah. Setiap 100 gram kecambah kacang hijau hanya mengandung 8 kalori panas, tetapi kandungan seratnya dapat meningkatkan kontraksi usus, sehingga punya efek dapat memperlancar buang air, ciri yang khas ini menyebabkan kecambah kacang hijau punya peran penting untuk mengatasi masalah kegemukan.
Lebih jauh lagi, kecambah kacang hijau juga merupakan sayuran bergizi stabil. Menurut hasil analisa, kecambah mengandung protein, lemak, karbohidrat, berbagai macam vitamin, serat, karotena, asam nitrat, fosfor, zat besi dan mineral.
Oleh karenanya, orang-orang yang sering mengonsumsinya, juga tidak akan menemui masalah kekurangan gizi meskipun hanya mengonsumsi satu jenis makanan.
Namun, sifat kecambah kacang hijau adalah dingin, bila terlalu banyak mengonsumsinya juga akan mudah merusak lambung (kedinginan). Karena itu, bagi orang yang kondisi lambung/ limpanya dingin, tidaklah cocok bila mengonsumsinya untuk jangka waktu lama. Akan dapat menimbulkan radang usus akut, radang lambung akut, serta diare dan bagi penderita berbagai penyakit lain juga tidak dapat makan terlalu banyak.
Waktu memasaknya, sebaiknya dicampur dengan sedikit cabai, atau ditumis bersama dengan sayur wangi, kucai dan sayur sejenis lainnya, untuk menetralkan sifat dingin yang dikandungnya.
Saat memasak kecambah kacang hijau, minyak dan garam tidak boleh terlalu banyak, harus sebisanya mempertahankan khas rasa aromanya yang jernih, tawar dan enak.
Begitu dimasukkan ke wajan, kecambah harus ditumis dengan cepat dan segera diangkat. Dengan ditambah cuka secukupnya, baru dapat menjaga kandungan air dan vitamin C, rasanya juga baru bisa enak.
Waktu membelinya, harus dicium untuk memastikan tidak ada bau yang tidak enak. Bila ada baunya, jangan dibeli ataupun dimakan. Dan jika ada waktu, yang terbaik adalah kita turun tangan membuat sendiri, merendam kacang hijau dalam air agar dapat tumbuh menjadi kecambah. (Luxu/The Epoch Times/mgl)